|
Info & Tips
Alergi Susu Sapi? Coba Susu Kambing Posted on May 05, 2010 11:9:20
Dibanding susu sapi, susu kambing punya beberapa keunggulan sebagai
makanan tambahan bagi anak balita. Selain lebih mudah dicerna, susu
kambing mengandung lebih banyak mineral yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan anak.
Di kalangan masyarakat luas, terutama di
negara berkembang, pengertian susu lebih mengacu pada produk susu sapi.
Di Amerika saja tidak kurang dari 10 juta ekor sapi dipelihara dan
menghasilkan sekitar 56,7 juta ton susu. Padahal selain sapi, ternak
lain yang sangat potensial menghasilkan susu adalah kambing. Saat ini
susu kambing mulai populer di Indonesia, walaupun penyediaannya belum
sebanyak susu sapi.
Jika pada sapi perah dikenal keturunan
Holstein sebagai penghasil susu utama, di ?eluarga?kambing yang
terkenal sebagai penghasil susu berkualitas tinggi dengan kandungan
lemak rendah adalah jenis Saanen. Jenis Nubian menghasilkan sedikit
susu, tetapi berkadar lemak tinggi. Jenis Toggenburg, LaMancha,
Oberhasli, dan Alpine termasuk penghasil susu kualitas menengah.
Bagaimana
rasanya? Susu kambing yang berlemak tinggi tentu jauh lebih nikmat
dibandingkan dengan yang berlemak rendah. Namun, konsumsi susu berlemak
tinggi berpotensi menyebabkan obesitas.
Susu kambing memang
memiliki karakteristik yang berbeda dengan susu sapi ataupun ASI. Susu
kambing memiliki daya cerna protein yang tinggi dan rasa asam yang
sangat khas.
Aroma Kambing Ada masyarakat
yang beranggapan bahwa susu kambing beraroma seperti kambing. Hal
tersebut tidak sepenuhnya benar. Adanya aroma yang mengganggu sangat
tergantung pada cara pengolahan susu tersebut.
Bau kambing
pada susu kambing sebenarnya merupakan dampak dari wadah susu yang
tercemar aroma yang dihasilkan oleh kelenjar kambing. Jika pengolahan
dilakukan secara benar, susu kambing tidak akan memiliki aroma yang
terlalu mengganggu.
Pengaturan konsumsi pakan juga memengaruhi
kualitas susu kambing. Hal serupa juga berlaku pada susu sapi. Untuk
menambah selera, terutama bagi mereka yang mempunyai indra penciuman
yang sangat sensitif, konsumsi susu kambing juga dapat dicampur dengan
flavor lain seperti cokelat, vanila, atau stroberi.
Susu
kambing yang terbaik untuk dikonsumsi adalah dalam bentuk segar (raw
milk) karena kandungan gizinya belum banyak yang hilang akibat proses
pengolahan. Sayangnya, tidak semua orang bisa mengonsumsi susu kambing
segar. Bentuk olahan susu kambing yang lain adalah susu pasteurisasi,
yoghurt, es krim, dodol, ataupun kefir (susu asam).
Susu
kambing mempunyai struktur dan ukuran lemak yang lebih kecil
dibandingkan dengan susu sapi, sehingga lemak mudah sekali larut dan
tercampur secara lebih merata (homogen). Hal itulah yang menyebabkan
susu kambing terasa lebih halus dan lembut. Di sisi lain, susu kambing
mempunyai kandungan lemak relatif lebih tinggi dibandingkan dengan susu
sapi.
Mudah Dicerna Dalam beberapa hal,
susu kambing juga mempunyai keunggulan dibanding susu sapi. Kandungan
asam lemak pada susu kambing jauh lebih banyak dibanding susu sapi atau
susu kedelai. Namun, dibanding asam lemak pada susu sapi, susu kambing
lebih banyak mengandung asam lemak berantai pendek dan sedang.
Hal
tersebut menyebabkan lemak susu kambing lebih mudah dicerna tubuh untuk
menghasilkan energi, sehingga tidak tertimbun sebagai lemak atau
kolesterol. Dengan demikian, kekhawatiran menjadi gemuk atau terserang
penyakit yang berkaitan dengan kolesterol, tidak perlu terjadi.
Dari
hasil penelitian Mack pada tahun 1953 terbukti, kelompok anak yang
diberi susu kambing memiliki berat badan, mineralisasi kerangka,
kepadatan tulang, vitamin A plasma darah, kalsium, tiamin, riboflavin,
niasin, dan konsentrasi hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok anak yang diberi susu sapi.
Selain itu, susu kambing juga memiliki kapasitas buffer
yang lebih baik, sehingga bermanfaat bagi anak yang mengalami gangguan
pencernaan. Namun, susu kambing juga memiliki kelemahan, yakni
kandungan asam folat dan vitamin B12-nya lebih rendah daripada susu
sapi.
Susu kambing juga mengandung lebih sedikit orotic acid.
Relatif rendahnya kandungan senyawa tersebut berpengaruh baik terhadap
pencegahan sindroma perlemakan hati. Hal itu menyebabkan susu kambing
sangat baik untuk menjaga kesehatan hati.
Kalsium Lebih Tinggi Kandungan
kalsium pada susu kambing jauh lebih baik daripada susu sapi atau
kedelai, yaitu dalam 100 gramnya masing-masing mengandung 133, 100, dan
15 mg (lihat Tabel 2). Demikian juga dengan kadar fosfornya. Kadar
fosfor dalam 100 gram susu kambing, susu sapi, dan susu kedelai adalah
110, 90, dan 49 mg.
Konsumsi segelas susu kambing dapat
memenuhi 32,6 persen kebutuhan tubuh akan kalsium dan 27 persen
kebutuhan tubuh akan fosfor setiap hari. Sebaliknya, segelas susu sapi
hanya memenuhi 29,7 persen kebutuhan tubuh akan kalsium dan 23,2 persen
fosfor setiap hari.
Kalsium sangat penting untuk pertumbuhan
tulang. Selain itu, kalsium juga penting untuk melindungi sel-sel di
kolon (usus besar) agar terhindar dari kanker. Kalsium juga dapat
mengurangi angka kejadian tulang keropos (osteoporosis), terutama pada
ibu-ibu yang sudah memasuki masa menopause.
Manfaat lain dari
kalsium adalah mencegah migrain dan mengatur tekanan darah. Menurut
sebuah publikasi pada The American Journal of Clinical Nutrition,
seorang gadis yang baru mengalami menstruasi sebaiknya diberi asupan
susu kambing untuk menjaga kandungan kalsium di dalam tubuhnya.
Kadar
protein susu kambing tidak jauh berbeda dengan susu sapi. Konsumsi satu
gelas susu kambing dan susu sapi masing-masing dapat memenuhi 17,4 dan
16,3 persen kebutuhan tubuh akan protein setiap hari. Protein merupakan
zat gizi yang sangat dibutuhkan untuk mendukung proses tumbuh kembang
pada anak. Pada orang dewasa, protein sangat dibutuhkan untuk
pemeliharaan jaringan dan penggantian sel tubuh yang rusak.
Susu
kambing juga dipercaya dapat mengatasi penyakit darah tinggi karena
kandungan kaliumnya yang tinggi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah
kandungan kolesterolnya yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan
susu sapi. Karena itu, susu kambing tidak disarankan bagi mereka yang
menderita obesitas dan kolesterol tinggi.
Seperti halnya susu
sapi, susu kambing juga mengandung laktosa yang cukup tinggi, meskipun
sedikit lebih rendah daripada susu sapi. Kadar laktosa pada susu
kambing dan susu sapi masing-masing mencapai 4,1 dan 4,7 persen dari
total padatan. Karena itu, penderita lactose intolerance sebaiknya
menghindari konsumsi susu kambing dalam keadaan segar. Susu kambing
dapat juga dikonsumsi dalam bentuk olahan seperti yoghurt maupun kefir
yang memiliki kadar laktosa rendah.
Pengganti Susu Sapi Pada
bayi, sering ditemukan kasus alergi terhadap susu sapi. Susu sapi
merupakan salah satu bahan pangan penyebab alergi yang paling sering
terjadi pada anak-anak. Penyebab alergi lain yang potensial adalah
telur, udang, dan ikan.
Hippocrates pertama kali melaporkan
adanya reaksi alergi terhadap susu sapi sekitar tahun 370 Masehi. Dalam
beberapa dekade belakangan ini, prevalensi dan perhatian terhadap
alergi susu sapi semakin meningkat.
Beberapa penelitian di
berbagai negara menunjukkan bahwa prevalensi alergi susu sapi dalam
tahun pertama kehidupan anak adalah sekitar 2 persen. Sekitar 1-7
persen bayi menderita alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu
sapi. Perlu diingat bahwa sekitar 80 persen susu formula bayi yang
beredar di pasaran ternyata menggunakan bahan dasar susu sapi.
Alergi
merupakan masalah yang tidak boleh diremehkan. Reaksi yang ditimbulkan
dapat mengganggu semua organ tubuh dan perilaku anak, sehingga bisa
menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada tahun pertama
kehidupan anak, sistem imun tubuhnya relatif masih sangat lemah dan
rentan.
Gejala alergi terhadap protein susu biasanya timbul
pada bayi yang berumur dua sampai empat minggu, dan gejalanya akan
semakin jelas saat usia enam bulan. Bagian tubuh yang terserang alergi
adalah saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan kulit. Gejala yang
tampak akibat alergi terhadap protein susu antara lain muntah, diare,
penyerapan zat gizi yang kurang sempurna, asma, bronkitis, migrain, dan
hipersensitif.
Menurut Judarwanto (2000), alergi susu sapi 80
persen akan menghilang atau menjadi toleran sebelum anak berusia 3
tahun. Upaya penanganan terhadap alergi susu sapi adalah menghindari
konsumsi susu sapi dan makanan lain yang mengandung susu sapi. Sebagai
penggantinya, dapat digunakan susu kedelai atau susu kambing.
Sekitar
20-50 persen dari bayi yang diteliti memperlihatkan gejala tidak
toleran terhadap susu kedelai. Karena itu, susu kambing lebih
direkomendasikan sebagai pengganti susu sapi pada bayi yang menderita
alergi.
Susu kambing dilaporkan telah banyak digunakan sebagai
pengganti ataupun bahan pembuatan makanan bagi bayi yang alergi
terhadap susu sapi. Alergi pada saluran pencernaan bayi dilaporkan
berangsur-angsur dapat disembuhkan setelah diberikan susu kambing.
Menurut
Noor (2002), sekitar 40 persen pasien yang alergi terhadap protein susu
sapi memiliki toleransi yang baik terhadap susu kambing. Pasien
tersebut kemungkinan besar sensitif terhadap laktoglobulin yang
terkandung dalam susu sapi. Diduga bahwa laktogloglobulin (salah satu
komponen protein susu) merupakan komponen yang paling bertanggung jawab
terhadap kejadian alergi protein susu.
Menurut Judarwanto
(2000), terdapat lebih dari 40 jenis protein pada susu sapi yang dapat
menyebabkan alergi. Selain betalaktoglobulin, komponen protein lain
seperti kasein, alfa-laktalbumin, serum albumin, dan immunoglobulin,
juga dapat menyebabkan alergi.
Sumber : kesehatan.kompas
|